
Penilaian
Cepat terhadap Kerusakan Pusaka
Bangunan Bersejarah di Kota Padang & Pariaman
10-15 OKTOBER 2009
Gempa berkekuatan 7,9 skala Richter pada Rabu, 30 September 2009 telah
mengguncang Sumatera Barat. Kerusakan parah menimpa Padang (ibukota
Sumatera Barat dengan jumlah penduduk 750,000 jiwa) dan Pariaman. Sampai
saat ini belum ada informasi final mengenai jumlah korban jiwa, akan
tetapi beberapa sumber menyebutkan gempa telah merenggut 1.100 jiwa.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bertanggungjawab melakukan
koordinasi bantuan dan pemulihan pasca bencana. Akan tetapi BNPB lebih
fokus kepada bantuan obat-obatan, tenda darurat, dan kebutuhan dasar
lainnya. Penyelamatan pusaka bukanlah menjadi prioritas, namun beruntung
tidak sedikit aktivis pelestarian pusaka bergerak cepat dalam berbagai
aksi, khususnya memulai penilaian cepat terhadap kerusakan pusaka pasca
gempa.
Badan Pelestarian Pusaka Indonesia bersama Prince Claus Fund for Cultural
Emergency Response didukung oleh para sukarelawan dari Universitas Bung
Hatta, Universitas Gadjah Mada, Jogja Heritage Society, Aceh Heritage
Society, Pusaka, dan Ikatan Arsitek Indonesia-Sumatera Barat membentuk
Tim Penilaian Cepat terhadap Kerusakan Pusaka (Damaged Heritage Rapid
Assessment Team). Tim ini berkoordinasi dengan BP3 (Balai Pelestarian
Peninggalan Purbakala) Batusangkar di Sumatera Barat. Dukungan lainnya
diperoleh dari Bank Indonesia Cabang Padang, INTO (International National
Trusts Organisation), dan para pelestari lainnya.
Dalam waktu yang relative singkat, tim ini telah melakukan survey terhadap
244 bangunan bersejarah, dimana ditemukan 119 rusak berat, 68 rusak
sedang, 41 rusak ringan, dan 16 masih dalam kondisi aman. Ada sebuah
ancaman besar ketika bangunan bersejarah yang rusak akan segera direhabilitasi
dan diubah menjadi bangunan modern dan mengabaikan nilai pusakanya.
Bencana gempa tidak hanya menimbulkan kerusakan pada bangunan fisik,
namun juga isi yang berharga dari bangunan tersebut. Di Museum Adityawarman
terdapat 300 koleksi keramik dari Dinasti Ming dan Ching yang hancur.
Sementara di Badan Perpustakaan dan Kearsipan Sumatera Barat terdapat
ribuan buku yang rusak. Hanya 5 % arsip dan dokumen berharga yang masih
bisa diselamatkan.
Rencana pemulihan awal dan disain pelestarian pusaka perlu dipersiapkan
segera sebelum bangunan-bangunan direkonstruksi dengan mengabaikan prinsip-prinsip
pelestarian. Koordinasi dengan Pemerintah Daerah dan BNPB sangat mendesak
diperlukan untuk pembahasan panduan rehabilitasi yang sejalan dengan
pelestarian pusaka.
Tanggap Darurat Penyelamatan Pusaka Sumatera Barat didukung oleh:

Usefull Links :
Pusaka Indonesia
http://pusakaindonesia.org
Publication
http://www.rnw.nl/id/bahasa-indonesia/article/yayasan-belanda-pugar-bangunan-sejarah-sumatra-barat.
Severe damage
to cultural heritage in West Sumatra
Dokumentasi
Foto Pembukaan Pameran 13 November 2009 dan Temu Pakar 14 November 2009.
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Rekomendasi
Strategi Aksi Penyelamatan Pusaka Sumatera Barat Pasca Bencana
Ringkasan
Eksekutif Penilaian Cepat Kerusakan Bangunan Bersejarah di Kota Padang
dan Pariaman
Press
release
Foto dari Pelatihan Team HER dan Makan Basamo, 21 November 2009
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Penutupan
Pameran Aksi Penyelamatan Pusaka Sumbar Pasca Gempa
& Peresmian Team Pusaka Siaga Bencana, Senin, 30 November 2009,
18.00-19.00 WIB
Domus Matahari, Jl Veteran I no. 30 Jakarta Pusat
Aku
Berjanji Tidak Menangis,Jakarta, 30 November 2009, Eka Budianta